June 17, 2009

Mengembangkan Sikap Optimis dalam Karir

Posted in Firla D. Lutvitasari (06104241034) at 11:57 pm by adminkarir

Kesuksesan tidak akan datang secara otomatis. Kesuksesan bukan pula hadiah hasil undian yang diperoleh secara tak terduga. Tanpa usaha yang serius, kesungguhan hati dan kerja keras, kesuksesan hanyalah mimpi belaka.

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara seorang pemenang yang sukses dan seorang pecundang yang gagal. Seorang pemenang mungkin pernah mengalami kegagalan namun meninggalkannya di belakang. Sebaliknya ia selalu melihat kesuksesan berada di depan dan terus mengejarnya. Sedangkan seorang pecundang mungkin pernah berhasil, namun  hanya tetap tinggal mengenangnya. Ia kemudian hanya membayangkan kegagalan di depannya dan terus menguatirkannya.
Seorang pemenang yang sukses akan selalu menjaga sikap Optimis dalam dirinya, karena itulah motivator terbesarnya untuk mencapai keberhasilan. Sebaliknya pecundang akan selalu bersikap pesimis dan berkubang di dalamnya.

Sikap optimis dapat ditanamkan, dibangkitkan, dikembangkan, dan dikelola dengan baik melalui kesadaran pribadi, lingkungan pergaulan dan sarana pendidikan yang positif. Orang-orang yang optimis akan selalu menjadi pemberi semangat (energy giver) kepada orang-orang lain di sekitarnya dan menularkan kesuksesan yang akan diraihnya.

A. Memahami optimisme

Terdapat proses sebelum seorang manusia memiliki karakter optimis, yaitu:

1.  Memiliki keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan, logika dan intuisi, pikiran analitis dan imajinatif. Sikap optimis kita akan berlebihan atau tidak realistis jika kita terlalu imanjinatif. Sedangkan optimis itu sebenarnya realistis.

2.  Memiliki keseimbangan antara pikiran dan perasaan. Terkadang kita lebih suka mempelajari perasaan daripada pikiran kita.

B. Penyebab seseorang menjadi pesimis

C. Mengembangkan sikap optimisme

Berusaha menemukan kekuatan, potensi dan kompetensi diri pribadi.

  1. Kegagalan yang berulang-ulang tanpa adanya perubahan atau kemajuan berarti.
  2. Pernah mengalami peristiwa traumatik dan tidak terselesaikan atau dibereskan.
  3. Rasa putus asa dan penderitaan yang berkepanjangan.
  4. Berada di bawah tekanan dan dominasi atasan, pimpinan, atau otoritas.
  5. Memiliki rasa minder, merasa tidak berarti, tidak pernah dihargai, tidak berani mencoba hal-hal baru.
  6. Selalu didikte, diatur, memiliki mentalitas “yes man” atau “asal bapa senang”.
  7. Tidak atau kurang memiliki pengalaman sukses atau berhasil.
  8. Tidak mampu melihat peluang, tidak mengetahui potensi diri dan tidak kreatif dalam penyelesaian masalah.
  9. Memiliki lingkungan pergaulan dengan orang-orang yang pesimis dan gagal, kurang kerjasama dan pergaulan dengan orang yang sukses dan berhasil.
  10. Ketika cara berpikir atau paradigma dan wawasan kita diisi dengan hal yang negatif.
  1. Kembangkan keberanian untuk mencoba dan mengambil resiko untuk tujuan dan pencapaian hal-hal baru.
  2. Membangun hubungan dan relasi yang baik dengan lingkungan komunitas atau jaringan kerja sama yang positif.
  3. Mengembangkan pengalaman sukses, dimulai dengan hal-hal sederhana.
  4. Melatih mental pemenang yang tidak mudah menyerah, namun melihat masalah dan kesulitan sebagai tantangan untuk diselesaikan.
  5. Memotivasi pikiran dan paradigma dengan hal-hal positif dan membangun untuk membangkitkan semangat dan daya juang.
  6. Membangun sikap bertanggung jawab dalam menghadapi kesulitan dan tidak lari dari kenyataan, ada usaha dan kiat positif untuk penyelesaian masalah.
  7. Belajar dan berbagi pengalaman sukses maupun kegagalan orang-orang lain.
  8. Kembangkan berbagai harapan / peluang dengan alternatif tindakan dan solusi.
  9. Rencanakan persiapan yang matang dengan wawasan yang inovatif dan kreatif.

Sikap optimis dapat dibangun dan harus dipelihara. Karena perasaan kita rentan, pikiran kita banyak dipengaruhi dan dibentuk oleh input-input dari sekeliling kita. Maka kita harus memelihara dan menjaga sikap optimis, dengan cara menjaga pikiran dari input-input negatif yang masuk dan menjaga perasaan kita agar dipenuhi dengan kegembiraan, sukacita, damai, dan penuh dengan empati. Jangan biarkan hati kita dipenuhi dengan kemarahan, kebencian dan emosi. Jika kita dapat memelihara ke dua hal di atas maka akan terjadi keseimbangan antara pikiran dan perasaan. Jika kita dapat  menyeimbangkan pikiran dan perasaan maka kita dapat menyeimbangkan intuisi dan logika. Jika ke dua hal diatas seimbang, maka kita akan memperoleh keberanian dan pertimbangan. Ketika kita memiliki keberanian dan pertimbangan, saat itulah kita memiliki sikap optimis yang benar dan  kita dapat menularkannya kepada orang yang pesimis. Berikut ini terdapat kata-kata bijak yang dapat dipergunakan untuk memacu pengembangan sikap optimis:

  1. Seorang yang optimis bisa melihat suatu kesempatan dalam setiap bencana; seorang yang pesimis melihat suatu bencana dalam setiap kesempatan.
  2. Orang yang pesimis adalah orang yang, bagaimanapun juga keadaannya saat ini, akan kecewa di masa mendatang.
  3. Keoptimisan merupakan kerangka pikiran yang menyenangkan.
  4. Orang yang pesimis ibarat orang yang menyerap sinar matahari namun memancarkan kesuraman.
  5. Orang yang berhasil adalah orang yang antusias lebih lama daripada mereka yang gagal.

Sumber:  http://powercharacter.com

Pengenalan Perguruan Tinggi

Posted in Firla D. Lutvitasari (06104241034) at 11:33 pm by adminkarir

Setelah menyelesaikan SMU, anda bercita-cita melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Anda sering merasa bingung dan bimbang dalam menentukan perguruan tinggi yanga akan anda pilih serta fakultas yang akan anda masuki. Untuk itu, anda memerlukan informasi tentang kelanjutan studi yang berkaitan dengan program khusus yang anda pilih.

  1. Bentuk Pendidikan Tinggi

Banyak sekali perguruan tinggi yang dapat djumpai di Indonesia, antara lain Universitas Gajah Mada, UNY, Universitas Jenderal Sudirman, Akademik Gizi dan Sekolah Tinggi Akuntansi.

Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bentuk pendidikan tinggi adalah sebagai berikut:

1. Akademi merupakan pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan terapan dalam satu cabang/ sebagai ilmu pengetahuan atau kesenian tertentu.

Contoh: Akademi Karawitan, Akademi Ilmu Kemasyarakatan, Akademi Pariwiasata dan Akademi Akuntansi.

2. Politeknik adalah pendidikan tinggi yng menyelenggarakan pendidikan terapan dalam sejumlah pengetahuan khusus.

Contoh: Politeknik Negeri Semarang

3. Sekolah tinggi merupakan pendiidkan tinggi yng menyelenggarakan pendidikan akademik dan/ profesional dalam bidang disiplin ilmu tertentu.

Contoh: Sekolah Tinggi Ilmu Telekomunikasi, Sekolah Tinggi Pariwisata, Sekolah Tinggi Akuntansi dan Perbankan.

4. Institut adalah pendidikan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/ profesional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu.

Contoh: Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

5. Universitas adalah pendidikan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas dari bermacam-macam disiplin ilmu.

Contoh: Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dll.

Bagi mereka yang menyelesaikan pendidikan tinggi di institute, sekolah tinggi dan universitas akan memperoleh gelar sarjana.

  1. Jurusan/ Program Studi di PTN

Memilih jurusan atau program studi di perguruan tinggi tidak boleh dilakukan sembarangan dan asal-asalan, sebab kesalahan dalam memilih akan berakibat tidak baik terhadap prestasi dan masa depan yang diinginkan. Pertimbangan yang digunakan untuk memilih prodi di perguruan tingi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan saat memilih jurusan di kelas XI. Adapun pertimbangan tersebut diantaranya :

  1. Minat dan kemampuan pribadi
  2. Prestasi akademik selama di SMA
  3. Hasil tes psikologi
  4. Kemampuan social ekonomi keluarga
  5. peluang “kursi” pada jurusan yang dituju
  6. Lokasi, letak, akomodasi ke perguruan tinggi, dll

Pilihan Program srudi di PTN dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok IPA dan kelompok IPS. Setiap kelompok dibagi lagi dalam dua bagian, yaitu bagian pendidikan dan bagian non pendidikan. Agar anda dapat belajar di perguruan tinggi dengan baik, dalam memilih program studi sebaiknya disesuaikan dengan bakat yang dimiliki, sifat-sifat, dan biaya yang ada.

Idola Sebagai Motivator Karir

Posted in Firla D. Lutvitasari (06104241034) at 11:30 pm by adminkarir

Pada dasarnya manusia membutuhkan sesuatu untuk dipuja, untuk meyakinkan bahwa ada satu hal yang lebih dibanding dengan dirinya. Karena itu manusia memiliki agama dan kepercayaan karena manusia membutuhkan suatu keyakinan yang dapat memperkuat eksistensi mereka di dunia, dan meyakini mereka bahwa mereka hanyalah manusia. Selain itu manusia membutuhkan sosok yang dapat dijadikan penutan sebagai tolak ukur perilaku mereka.

Idola adalah orang yang bisa memberikan manfaat buat orang lain dalam berbagai hal baik kecil atau besar dan tanpa pamrih. Pengertian idola yang selama ini kita ketahui merupakan sebuah klaim dari satu individu ke individu lainnya yang dinilai pantas dijadikan panutan, atau dipuja.

Sebagai penyemangat atau motivator kita boleh saja mengidolakan siapapun yang kita sukai, baik artis, penyanyi, maupun pemain sinetron. Bahkan pemimpin, tokoh politik, atau aktivis pun bisa kita jadikan idola selama mereka mampu menjadi motivator bagi kita tanpa ada aturan apapun. Bisa jadi kita mengidolakan pembantu kita, karena dia getol banget orangnya, atau mengidolakan orangtua, kakak, atau sodara, atau temen sendiri karena mereka banyak memberikan manfaat berharaga dalam mempelajari hidup misalnya… atau kita mengidolakan tukang sapu jalan karena mereka bener-bener konsisten mengerjakan tugasnya sebagai penjaga kebersihan. Atau hansip di rumah yang menjaga keamanan rumah dari terror para maling, atau tukang bakso yang suka lewat depan rumah, karena jago banget bikin bakso enak, Kenapa enggak? Selama bisa bermanfaat buat orang lain, semua sudah bisa jadi idola. Nggak penting harus masuk TV atau enggak, popular atau enggak, selama bisa membuat kita bernapas sedikit lebih lega jika ada di dekat kita atau saat kita pandang, dan dapat memberi manfaat buat kita maka mereka udah bisa jadi idola, tanpa harus terkenal.

Boyazbelajarnulis’s Weblog.htm

Tips Memilih Sekolah Lanjutan

Posted in Firla D. Lutvitasari (06104241034) at 11:24 pm by adminkarir

Tidak dapat dipungkiri tentang adanya ungkapan bahwa masa depan suatu bangsa terletak di tangan para generasi mudanya. Artinya, kemajuan atau kemunduran suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas calon-calon penerus bangsa. Calon penerus bangsa terdiri dari para anak muda/remaja, dan anak-anak kecil yang akan diasah untuk memperjuangkan bangsa ini. Manakala generasi mudanya berkualitas rendah baik fisik atau psikis, bisa dipastikan bangsa tersebut akan mengalami kekacauan. Dalam konteks mempersiapkan generasi penerus, tidak lain ditujukan pada bidang pendidikan (baca; sekolah). Menurut para orang tua sekolah adalah tempat dimana mendidik peserta didik menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang cerdas dan kreatif. Saat ini marak sekali para anak dan orang tua memilih sekolah. Baik lulusan TK yang akan melanjutkan ke sekolah dasar (SD), dari SD akan melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan SLTP ke Sekolah Menengah Umum (SMU) serta siswa SMU yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi (PT). Oleh karena itu Anda harus memikirkan panjang lebar dalam memilih sekolah yang berkualitas tinggi, baik negeri maupun swasta. Anda harus mengetahui kelebihan serta kekurangan dari sekolah-sekolah tersebut. Sekolah yang berkualitas tinggi tidak harus mahal. Karena sekolah yang mahal belum tentu terjamin kualitasnya. Berikut ini terdapat 10 tips untuk mengambil keputusan dalam memilih sekolah lanjutan:

1. Anda harus mengetahui dan memahami visi dari sekolah tersebut Anda jangan percaya begitu saja pada brosur atau iklan yang menampilkan program-program pembelajaran yang ditonjolkan. Pendidikan yang berkualitas sangat tergantung pada visi yang diembannya sebagai gambaran atau tujuan yang ingin dicapai melalui seluruh proses pembelajaran. Anda dapat meminta keterangan sejelas-jelasnya tentang visi sekolah yang bersangkutan.

2. Cermatilah landasan konseptualnya Setelah Anda memahami visinya, selanjutnya Anda harus melihat apakah proses pembelajarannya dilandasi konsep filosofis dan pedagogis yang jelas. Sekian banyak program yang baik-baik tanpa dilandasi konsep yang memberikan kerangka rasional dan ilmiah tak akan banyak berarti pada tujuan yang akan dicapai. Pendidikan sekolah tidak sekadar sekeranjang kursus yang dikemas sebagai parsel yang menarik. Setiap detail dalam sekolah harus memiliki tujuan yang sama, bahkan setiap benda yang ditaruh dan ditempel di ruang kelas harus bisa dipertanggungjawabkan apa tujuannya secara edukatif.

3. Program pembelajaran Setelah Anda melihat visi dan konsepnya, selanjutnya Anda cermati program-program yang ditawarkan. Apakah seluruh program bisa ditarik benang merahnya ke konsep dan visi? Sekolah yang baik akan menyusun program pembelajaran berdasarkan visi dan dilandasi konsep, bukan tambal-sulam atau asal comot sana-sini.

4. Metode pendekatan Program yang bagus belum tentu berhasil dengan efektif tanpa ditunjang dengan metode dan pendekatan yang tepat. Anda dapat menanyakan pula metode-metode apa dan pendekatannya dalam proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Semakin bervariasi metode yang digunakan semakin besar kemungkinan untuk terjadinya inovasi-inovasi yang mendorong terciptakan belajar-mengajar yang kreatif dan efektif.

5. Fasilitas penunjang Untuk menunjang keberhasilan program pembelajaran, dibutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang yang tepat. Misalnya, sekolah yang mencanangkan program pembelajaran komputer, maka harus dilengkapi peralatan yang memadai. Media belajar dan buku-buku sangat mendukung tercapainya tujuan.

6. Kualitas SDM [Sumber Daya Manusia] Ujung tombak pendidikan adalah para gurunya, maka kecakapan dan profesionalitas guru sangat menentukan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Ada sekolah yang sengaja ”memajang” gelar/titel para gurunya untuk menunjukkan SDM yang dimilikinya. Namun, Anda jangan terkecoh, gelar dan titel sekarang ini bukan jaminan. Di samping orang bisa “membeli” gelar, kualitas Perguruan Tinggi pencetak gelar pun tidak semuanya bermutu. Cara terbaik adalah Anda melihat langsung bagaimana mereka mengajar, misalnya pada kesempatan open house. Anda juga dapat mencari informasi kepada orangtua yang sudah menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

7. Organisasi manajemen Sekolah yang baik harus dikelola dengan baik pula. Sistem organisasi dan manajemennya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Setiap sekolah memiliki caranya sendiri dalam mengelola organisasi agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Lembaga pendidikan khususnya swasta harus dikelola sebagai organisasi modern yang profesional, bukan asal jalan. Status sekolah juga perlu dipertanyakan, termasuk perizinan karena menyangkut kelangsungan pendidikan. Yayasan atau perusahaan yang memayungi sekolah juga harus jelas, apakah independen atau berafiliasi dengan yayasan induknya, apakah franchise, apakah di bawah maupun lembaga keagamaan atau organisasi kemasyarakatan. Semuanya harus jelas sebelum Anda menjatuhkan pilihan.

8. Nyaman dan aman Anda harus melihat kondisi fisik sekolah, termasuk ruang kelas dan fasilitasnya. Apakah akan memberikan suasana yang nyaman dan aman Anda selama belajar. Semua harus diperhitungkan baik dan buruknya.

9. Lokasi terjangkau Lokasi sekolah juga perlu dipertimbangkan, mengingat biaya dan jenis transportasi yang nanti akan dipakai. Jangan sampai Anda membuang energi di jalan lantaran masalah jarak atau kemacetan.

10. Anggaran biaya Mahal atau murah untuk pendidikan sangat relatif, khususnya untuk sekolah swasta biasanya biayanya lebih tinggi dibanding negeri. Hal ini disebabkan swasta harus membiayai seluruh pengelolaan semata-mata dari uang sekolah yang ditarik dari orangtua. Berbeda dari negeri yang ditanggung pemerintah, atau swasta yang didanai pihak donor. Yang terpenting adalah Anda memilih sekolah terbaik sesuai dengan biaya yang sudah Anda anggarkan, dan perlu juga untuk mempertimbangkan biaya kelanjutannya. Memilih sekolah semata-mata dari “murah”-nya juga kurang bijaksana, karena bila kualitasnya rendah berarti Anda juga membayar mahal untuk sesuatu yang tak berguna. Memiliki sekolah mahal karena merasa bergengsi juga kurang tepat karena Anda tidak tahu apa yang terbaik untuk Anda. Rupanya peringatan “teliti sebelum membeli” juga berlaku untuk memilih sekolah terbaik bagi Anda.

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/5/18/kel1.html

Bagaimana Cara Mengembangkan Soft Skill??

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 2:53 am by adminkarir

Istilah “hard skill” dan “soft skill” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Hard skill adalah kemampuan seseorang yang lebih bersifat teknis, mencakup pendidikan, pengalaman, dan tingkat keahlian, sedangkan soft skill lebih cenderung bersifat nonteknis, tidak berwujud, dan merupakan karakteristik kepribadian seseorang.

Kemampuan intelektual (hard skill) tidak menjamin seseorang akan sukses dalam hidupnya. Tingkat intelektual hanya mendukung 20 persen dari pencapaian prestasi dan keberhasilan seseorang, sementara 80 persennya, berasal dari kemampuan kepribadian (soft skill).

 

Macam-Macam Soft Skill

 

1.  Mengenal Diri Sendiri

Kita perlu menyadari kelemahan dan kelebihan masing-masing, dan usaha-usaha apa yang seharusnya kita lakukan supaya lebih berhasil di kemudian hari. Kita dapat mengenal diri sendiri jika kita dapat menunjukkan sikap sebagai berikut:

a.  Merasa aman dengan diri sendiri (security)

Merasa aman dengan diri sendiri berarti mempunyai rasa percaya diri, rasa harga diri, dan tidak merasa cemas serta gelisah tentang diri sendiri.

b.  Percaya pada orang lain (trust)

Percaya pada orang lain berarti mampu untuk memberikan sesuatu dari diri sendiri dan menerima sesuatu dari kepribadian orang lain.

c.  Memiliki keteguhan hati (courage)

Memiliki keteguhan hati berarti berani mengambil risiko tidak selalu mendapat tanggapan yang positif atau mendapatkan balas jasa dalam bentuk dikagumi serta dihargai.

 

2.  Memahami Orang Lain

Kita perlu memiliki keterbukaan hati dan kebebasan dari cara berpikir yang kaku menurut keyakinan/pandangan pribadi, yang ditandai oleh sikap sebagai berikut:

a. Peka (sensitivity)

Keterbukaan hati dan pikiran memungkinkan kita menjadi peka terhadap pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh orang lain, baik dengan kata-kata maupun dengan ungkapan nonverbal, dan ikut menghayatinya tanpa kehilangan identitasnya sendiri.

b. Empati (Emphatic understanding)

Kita mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan orang lain seolah-olah kita pada saat itu menjadi orang lain tersebut, tanpa kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.

 

3.  Kemampuan Berkomunikasi dengan Orang Lain

Kemampuan ini jelas bertumpu pada kemampuan untuk memahami orang lain. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain pada taraf pertemuan antarpribadi terdiri dari beberapa sikap, yaitu:

a. Berhati tulus ikhlas/sejati (genuine)

Bersikap sejati atau berhati tulus, berarti berkata-kata dan berbuat tanpa berpura-pura (jujur dan terus terang).

b. Tidak menguasai orang lain (nondominance)

Tidak menguasai orang lain berarti secara sadar tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri kepada orang lain, secara sadar tidak akan memaksa orang lain ke cara berpikir serta cara bertindak tertentu.

c. Mendengarkan dengan baik (listening)

Mampu mendengarkan dengan baik berarti berusaha menangkap apa yang sebenarnya diungkapkan oleh orang lain, tidak hanya mendengar aneka bunyi yang diucapkan, tetapi juga menggali makna dalam kata-kata itu.

d. Menghargai orang lain (positive regard)

Menghargai orang lain berarti dapat mendekati orang lain dan didekati oleh orang lain, dengan sikap yang positif dan kerelaan menerima orang lain apa adanya.

e. Mampu berkomunikasi verbal (verbal communication)

Kita harus terampil menyampaikan pikiran dan perasaan dalam kata-kata yang memadai, baik pikiran dan perasaan sendiri maupun orang lain.

f.  Memahami isyarat nonverbal (nonverbal communication)

Dalam berkomunikasi verbal, kita perlu menyadari efek dari kata-kata yang disampaikan kepada orang lain, dan kecocokan antara kata-kata yang diucapkan dan isyarat-isyarat nonverbal.

 

Pengembangan Soft Skill

Pengembangan soft skill berhubungan erat dengan kecerdasan emosi (EQ). Ada dua hal utama yang berkaitan dengan kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Jika kita sudah mengenal emosi diri kita dengan baik, maka kita dapat mengelolanya dengan mudah, sehingga kecerdasan emosi mudah pula untuk dibangun dan dikembangkan. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi:

 

1.  Mengatur Emosi

Diri kita adalah tuan dari emosi kita (I Am the Master of My Emotion), sehingga kita bisa mengatur menjadi seperti apapun bentuk emosi kita. Oleh karena itu, agar emosi tetap berada di level yang baik/positif, maka kita harus pandai-pandai memilih informasi yang kita terima. Informasi yang dirasa dapat mengganggu diri kita sebaiknya ditelaah terlebih dahulu.

 

2.  Mengkomunikasikan Diri dengan Baik

Terkadang orang lain bisa salah persepsi jika kita keliru mengkomunikasikan diri kita. Oleh karena itu komunikasi yang baik akan menghasilkan emosi yang baik pula, yang akan berguna untuk rencana hidup kita.

 

3.  Mengubah Pandangan Terhadap Sesuatu

Setiap orang mempunyai pandangan dan sikap tersendiri terhadap sesuatu. Terkadang pandangan dan sikap mereka berbeda dengan pandangan kita. Perbedaan inilah yang menuntut kita untuk mau melihat suatu hal dari kacamata oranglain dengan mengajukan pertanyaan yang tepat.

 

4.  Selalu Berinteraksi dengan Orang Lain

Berinteraksi dengan orang lain memberi kesempatan kepada kita untuk memahami diri sendiri atas tanggapan orang lain terhadap sikap dan perilaku yang kita tampilkan. Dari tanggapan orang lain tersebut, kita bisa belajar sikap dan perilaku yang harus kita tampilkan pada situasi dan kondisi tertentu.

Bagaimana Memilih Jurusan Agar Tepat?

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 2:23 am by adminkarir

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, yaitu:

1. Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum memilih jurusan, hendaknya kita mempunyai informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternatif profesi kerja, kualitas alumninya, dsb.

2. Menyadari bahwa jurusan yang dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir. Kita perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak pasti sukses seperti yang diiklankan.

3. Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat kita. Jika kita memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minat, maka diri kita akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika kita tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih, bisa mempengaruhi motivasi belajar.  

4. Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau belajar menghadapi tantangannya. 

5. Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita. Jika kita bercita-cita menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses. Misalnya, jika ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.  

6. Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika kita memiliki lebih dari satu alternatif untuk menjaga diri jika tidak masuk di alternatif pertama, maka masih ada kesempatan di alternatif berikutnya. Pemilihan alternatif studi harus diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan, bukan karena pilihan yang paling besar kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.

Resep Merasa Sukses

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 1:56 am by adminkarir

Sukses memang banyak ukurannya. Sukses secara materi, karir, spiritual, kebahagian keluarga, dan lain-lain. Apapun ukuran yang dipakai yang penting adalah bahwa kita sendiri merasa bahagia dengan kesuksesan kita. Itu artinya kesuksesan yang diraih memang sesuai dengan yang kita inginkan bukan yang orang lain inginkan. Mungkin orang lain menganggap kita tidak sukses karena kita tidak kaya atau karirnya biasa saja tapi kalau kita bahagia dengan yang kita peroleh, dan memang itulah yang telah kita rencanakan, semestinya kita merasa sukses. Jadi judul yang tepat adalah resep merasa sukses, bukan resep sukses. Inilah resep merasa sukses yang dimaksud:

1. Tentukanlah Apa yang Anda Ingin Lakukan dalam Hidup Ini

Semua manusia pasti memiliki tujuan dalam hidup ini. Menentukan tujuan atau apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup ini perlu dilakukan agar Anda mempunyai cara atau langkah yang ingin Anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Realistis dan Fleksibel dengan Cita-Cita Anda

Seringkali cita-cita yang kita tetapkan tidak realistis. Terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan bakat dan kesukaan kita. Karena materi merupakan ukuran sukses seseorang maka kita memaksakan diri sekolah dan kerja di bidang yang banyak menghasilkan uang misalnya ekonomi.

3. Bahagia dengan Pencapaian Kecil

Dalam meraih cita-cita yang tinggi kita harus bisa menikmati pencapaian-pencapaian kecil dalam perjalanan hidup kita. Tiap ada kesalahan yang kita temui dan kita bisa menemukan sebagian solusinya maka kita akan merasa bahwa semakin banyak hal yang kita mengerti dan semakin jelas pemecahan atas problem yang kita hadapi.

4. Tetap dalam Perspektif

Seringkali karena terlalu fokus dengan pencapaian cita-cita Anda. Anda lupa untuk menikmati saat ini, detik ini. Kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Pada saat tertentu mungkin Anda merasa gagal, kesal dan semuanya tidak berjalan dengan baik. Pada saat itu cobalah untuk tetap dalam perspektif dan lihat betapa masih beruntungnya Anda.

5. Belajar dan Memperbaiki Diri

Perbedaan antara orang sukses dengan orang yang tidak sukses adalah bahwa orang sukses dan calon sukses selalu mau belajar. Belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan belajar dari orang-orang yang sudah sukses.

 

6. Berbagi dengan Orang-Orang yang Tidak Beruntung

Bersedekahlah manakala kita sedang lapang dan sempit. Berbagi kepada yang lebih lemah dari kita sungguh merupakan obat dari perasaan sukses dan tidak sukses pada diri kita. Dengan berbagi maka kita akan merasa benar-benar sukses dan beruntung. Dengan berbagi kita juga akan merasa ternyata banyak yang lebih tidak sukses dibandingkan kita.

7. Sabar dan Berserah Diri

Akhirnya kalau kita sudah melakukan apa yg terbaik untuk meraih kesuksesan dan kesuksesan tidak datang juga, sabar dan pasrahkan diri kita. Paling tidak kita sudah berbuat sebaik mungkin untuk mengoptimalkan hidup kita.

Pernahkah Anda Bekerja Sama??

Posted in Kusuma Wardani (06104241022) at 12:20 am by adminkarir

Suatu program yang ingin dilaksanakan sangat memerlukan kekompakan suatu tim, agar program yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Oleh karena itu, terlebih dahulu harus menyiapkan lebih awal berbagai hal penting. Kebutuhan pada aspek material, keahlian personal, sampai pada aspek kesiapan mental dalam melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, apalagi sebelumnya belum pernah kenal, termasuk upaya menghadapi berbagai kemungkinan negatif maupun positif yang akan muncul dalam realisasi program.

Membangun TIM

Terlebih dahulu membentuk tim, lebih selektif memilih koordinator programnya sampai pada bidang atau seksi yang dibutuhkan. Orang yang ditunjuk mengisi bidang atau seksi harus pas sesuai dengan keahliannnya agar lebih memudahkan menyelesaikan tugas yang diamanahkannya. Koordinator program yang ditunjuk secara musyawarah paling tidak harus memilih beberapa kriteria pokok, antara lain: Memahami program yang ingin dilaksanakan, keahlian mendorong partisipasi anggota, keahlian dalam memahami dinamika tim yang dibentuk, mampu memelihara semangat kerja tim, dan bersedia mengambil resiko yang telah disepakati sebelumnya. Dalam membentuk tim, upayakan tim yang dibentuk lebih kecil (tidak perlu banyak orang), selain bisa lebih efektif, efiesien juga lebih hemat biaya.

Job Description Personal

Setelah Tim terbentuk, Koordinator program dan dibantu oleh sekretaris membuat Job description untuk memudahkan dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Dalam, job description harus memuat Tugas dan wewenangnya masing-masing posisi, agar tidak melahirkan konflik antar bidang atau seksi. Jika konflik tidak bisa dihindari, segala masalah harus dibawah dalam rapat panitia, kalau waktunya mendesak maka negosiasi kedua pihak yang berkonflik harus berupaya mencari jalan keluarnya agar masalahnya cepat selelesai.

Koordinator harus menjelaskan hal-hal penting berkaitan dengan agenda tim, dan yang tidak kalah pentingnya, harus menjadi mediator dan fasilitator dan harus bersikap tegas dan adil dalam menyelesaikan masalah. Berikan gambaran berbagai idikator keberhasilan dalam menjalankan program, seperti kualitas, ketepatan waktu dan efektivitas biaya yang dipakai.

Saling Mendukung

Dalam implementasi tugas masing-masing, tim harus saling memberikan semangat dan respon yang baik, tidak memberikan penilai dan informasi yang buruk pada tim lainnya, karena bisa melahirkan persaingan yang tidak baik.

Melakukan Pertemuan Rutin

Idealnya setiap departemen, seksi yang di pimpin oleh koordinator program harus membuat jadwal pertemuan secara rutin, dalam membicarakan berbagai berbagai perkembangan yang terjadi. Masing-masing bidang dan seksi yang harus melakukan monitoring dan evaluasi yang mendapat bantuan dari pihak eksternal dalam memahami substansi yang terjadi, dan menyiapkan  berbagai agenda strategi sebagai solusi alternatif atas berbagai problem yang muncul. Perkembangan baik yang dicapai perlu untuk dirayakan dengan melakukan meeting sambil makan-makan di tempat-tempat yang diangap cocok oleh tim. Berikan penghargaan kepada mereka yang berhasil menjalankan tugasnya.

Melakukan Monitoring dan Evaluasi

Monitoring yang baik harus dijalankan selama program itu berlangsung, sehingga bisa melihat kelemahan dan kekuatannya. Lebih jauh dari itu, monitoring diharapkan bisa memberikan berbagai gambaran perkembangan yang sudah dicapai, khususnya soal plus minus dalam impelementasinya. Kemudian melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap program yang telah dijalankan. Membuat kesimpulan secara menyeluruh atas proyek yang sudah berjalan. Beberapa hal penting yang harus dievaluasi dalam hal ini adalah, kerjasama tim, implementasi tugas masing-masing tim, mengukur sejauh mana keberhasilan yang dicapai dilihat dari tujuan program yang dijalankan, kalau perlu tim melakukan press release, agar program yang dibuat dapat dipahami oleh masyarakat, lebih jauh dari itu, bisa menjadi media kritik dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk bisa ditindaklanjuti.

Be A Succes Person

Posted in Aulya Deffitha PPS (06104241037) at 12:04 am by adminkarir

“Kamu belajar sejarah dan matematika di sekolah….”

“Tetapi tidak ada orang yang mengajar kamu bagaimana mencapai tujuan.

“Tidak ada yang mengajar kamu bagaimana menggunakan pikiran kecil kamu untuk mempercepat sukses dalam hidupmu”

“Dan kamu tidak pernah belajar bersyukur

goalsrx0“Kamu tahu hidupmu akan lebih baik.
“Kamu mencoba beberapa hal”

successuk1

successseminarsmr6

“Tetapi sampai sekarang, belum ada yang sama sekali ‘berhasil kamu lakukan’ “

“Di sinilah kita menjadi diam dan tidak bergerak”

“Setiap hari kita punya 50.000 pikiran dan juga imajinasi”

“Kita harus melakukan apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan akan menghasilkan

resultske9

“Di sinilah letak permasalahannya…”

“Ketika kamu mempunyai pikiran yang sama - kamu akan mendapatkan hasil yang sama”

“Kamu tetap terjebak dalam pikiran yang sama terus menerus seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya”

thoughtssa6

Pikiran lama kamu sama seperti penghalang jalan”

Jalan satu-satunya untuk mendapatkan kesuksesan dan kesenangan adalah pecahkan lingkaran setan itu

“Tapi Bagaimana caranya?”

“Jawabannya adalah bagaimana cara kamu mengganti pikiran lama kamu itu

Note : “cara berpikir tentang sukses itu selalu berbeda, dan jalan mencapai sukses juga, ada yang di kampung punya sawah beberapa hektar dia senang karna dia sukses (menurut pikiran dia tetapi pikiran orang lain beda lagi) , kalau bagi misalnya orang lain jadi Presiden baru di sebut sukses juga, dari semua diatas yang terpenting adalah seberapa ukuran sukses untuk kita bukan untuk orang lain, kalau kita menanggap apa yang kita lakukan sudah cukup maka otomatis kesuksesan itu sudah ada menurut kita, jadi sukses dalam pikiran orang lain selalu berbeda”

sumber : www.successandhappines.net

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.