June 17, 2009

Bagaimana Cara Mengembangkan Soft Skill??

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 2:53 am by adminkarir

Istilah “hard skill” dan “soft skill” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Hard skill adalah kemampuan seseorang yang lebih bersifat teknis, mencakup pendidikan, pengalaman, dan tingkat keahlian, sedangkan soft skill lebih cenderung bersifat nonteknis, tidak berwujud, dan merupakan karakteristik kepribadian seseorang.

Kemampuan intelektual (hard skill) tidak menjamin seseorang akan sukses dalam hidupnya. Tingkat intelektual hanya mendukung 20 persen dari pencapaian prestasi dan keberhasilan seseorang, sementara 80 persennya, berasal dari kemampuan kepribadian (soft skill).

 

Macam-Macam Soft Skill

 

1.  Mengenal Diri Sendiri

Kita perlu menyadari kelemahan dan kelebihan masing-masing, dan usaha-usaha apa yang seharusnya kita lakukan supaya lebih berhasil di kemudian hari. Kita dapat mengenal diri sendiri jika kita dapat menunjukkan sikap sebagai berikut:

a.  Merasa aman dengan diri sendiri (security)

Merasa aman dengan diri sendiri berarti mempunyai rasa percaya diri, rasa harga diri, dan tidak merasa cemas serta gelisah tentang diri sendiri.

b.  Percaya pada orang lain (trust)

Percaya pada orang lain berarti mampu untuk memberikan sesuatu dari diri sendiri dan menerima sesuatu dari kepribadian orang lain.

c.  Memiliki keteguhan hati (courage)

Memiliki keteguhan hati berarti berani mengambil risiko tidak selalu mendapat tanggapan yang positif atau mendapatkan balas jasa dalam bentuk dikagumi serta dihargai.

 

2.  Memahami Orang Lain

Kita perlu memiliki keterbukaan hati dan kebebasan dari cara berpikir yang kaku menurut keyakinan/pandangan pribadi, yang ditandai oleh sikap sebagai berikut:

a. Peka (sensitivity)

Keterbukaan hati dan pikiran memungkinkan kita menjadi peka terhadap pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh orang lain, baik dengan kata-kata maupun dengan ungkapan nonverbal, dan ikut menghayatinya tanpa kehilangan identitasnya sendiri.

b. Empati (Emphatic understanding)

Kita mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan orang lain seolah-olah kita pada saat itu menjadi orang lain tersebut, tanpa kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.

 

3.  Kemampuan Berkomunikasi dengan Orang Lain

Kemampuan ini jelas bertumpu pada kemampuan untuk memahami orang lain. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain pada taraf pertemuan antarpribadi terdiri dari beberapa sikap, yaitu:

a. Berhati tulus ikhlas/sejati (genuine)

Bersikap sejati atau berhati tulus, berarti berkata-kata dan berbuat tanpa berpura-pura (jujur dan terus terang).

b. Tidak menguasai orang lain (nondominance)

Tidak menguasai orang lain berarti secara sadar tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri kepada orang lain, secara sadar tidak akan memaksa orang lain ke cara berpikir serta cara bertindak tertentu.

c. Mendengarkan dengan baik (listening)

Mampu mendengarkan dengan baik berarti berusaha menangkap apa yang sebenarnya diungkapkan oleh orang lain, tidak hanya mendengar aneka bunyi yang diucapkan, tetapi juga menggali makna dalam kata-kata itu.

d. Menghargai orang lain (positive regard)

Menghargai orang lain berarti dapat mendekati orang lain dan didekati oleh orang lain, dengan sikap yang positif dan kerelaan menerima orang lain apa adanya.

e. Mampu berkomunikasi verbal (verbal communication)

Kita harus terampil menyampaikan pikiran dan perasaan dalam kata-kata yang memadai, baik pikiran dan perasaan sendiri maupun orang lain.

f.  Memahami isyarat nonverbal (nonverbal communication)

Dalam berkomunikasi verbal, kita perlu menyadari efek dari kata-kata yang disampaikan kepada orang lain, dan kecocokan antara kata-kata yang diucapkan dan isyarat-isyarat nonverbal.

 

Pengembangan Soft Skill

Pengembangan soft skill berhubungan erat dengan kecerdasan emosi (EQ). Ada dua hal utama yang berkaitan dengan kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Jika kita sudah mengenal emosi diri kita dengan baik, maka kita dapat mengelolanya dengan mudah, sehingga kecerdasan emosi mudah pula untuk dibangun dan dikembangkan. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi:

 

1.  Mengatur Emosi

Diri kita adalah tuan dari emosi kita (I Am the Master of My Emotion), sehingga kita bisa mengatur menjadi seperti apapun bentuk emosi kita. Oleh karena itu, agar emosi tetap berada di level yang baik/positif, maka kita harus pandai-pandai memilih informasi yang kita terima. Informasi yang dirasa dapat mengganggu diri kita sebaiknya ditelaah terlebih dahulu.

 

2.  Mengkomunikasikan Diri dengan Baik

Terkadang orang lain bisa salah persepsi jika kita keliru mengkomunikasikan diri kita. Oleh karena itu komunikasi yang baik akan menghasilkan emosi yang baik pula, yang akan berguna untuk rencana hidup kita.

 

3.  Mengubah Pandangan Terhadap Sesuatu

Setiap orang mempunyai pandangan dan sikap tersendiri terhadap sesuatu. Terkadang pandangan dan sikap mereka berbeda dengan pandangan kita. Perbedaan inilah yang menuntut kita untuk mau melihat suatu hal dari kacamata oranglain dengan mengajukan pertanyaan yang tepat.

 

4.  Selalu Berinteraksi dengan Orang Lain

Berinteraksi dengan orang lain memberi kesempatan kepada kita untuk memahami diri sendiri atas tanggapan orang lain terhadap sikap dan perilaku yang kita tampilkan. Dari tanggapan orang lain tersebut, kita bisa belajar sikap dan perilaku yang harus kita tampilkan pada situasi dan kondisi tertentu.

Bagaimana Memilih Jurusan Agar Tepat?

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 2:23 am by adminkarir

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, yaitu:

1. Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum memilih jurusan, hendaknya kita mempunyai informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternatif profesi kerja, kualitas alumninya, dsb.

2. Menyadari bahwa jurusan yang dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir. Kita perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak pasti sukses seperti yang diiklankan.

3. Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat kita. Jika kita memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minat, maka diri kita akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika kita tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih, bisa mempengaruhi motivasi belajar.  

4. Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau belajar menghadapi tantangannya. 

5. Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita. Jika kita bercita-cita menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses. Misalnya, jika ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.  

6. Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika kita memiliki lebih dari satu alternatif untuk menjaga diri jika tidak masuk di alternatif pertama, maka masih ada kesempatan di alternatif berikutnya. Pemilihan alternatif studi harus diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan, bukan karena pilihan yang paling besar kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.

Resep Merasa Sukses

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 1:56 am by adminkarir

Sukses memang banyak ukurannya. Sukses secara materi, karir, spiritual, kebahagian keluarga, dan lain-lain. Apapun ukuran yang dipakai yang penting adalah bahwa kita sendiri merasa bahagia dengan kesuksesan kita. Itu artinya kesuksesan yang diraih memang sesuai dengan yang kita inginkan bukan yang orang lain inginkan. Mungkin orang lain menganggap kita tidak sukses karena kita tidak kaya atau karirnya biasa saja tapi kalau kita bahagia dengan yang kita peroleh, dan memang itulah yang telah kita rencanakan, semestinya kita merasa sukses. Jadi judul yang tepat adalah resep merasa sukses, bukan resep sukses. Inilah resep merasa sukses yang dimaksud:

1. Tentukanlah Apa yang Anda Ingin Lakukan dalam Hidup Ini

Semua manusia pasti memiliki tujuan dalam hidup ini. Menentukan tujuan atau apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup ini perlu dilakukan agar Anda mempunyai cara atau langkah yang ingin Anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Realistis dan Fleksibel dengan Cita-Cita Anda

Seringkali cita-cita yang kita tetapkan tidak realistis. Terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan bakat dan kesukaan kita. Karena materi merupakan ukuran sukses seseorang maka kita memaksakan diri sekolah dan kerja di bidang yang banyak menghasilkan uang misalnya ekonomi.

3. Bahagia dengan Pencapaian Kecil

Dalam meraih cita-cita yang tinggi kita harus bisa menikmati pencapaian-pencapaian kecil dalam perjalanan hidup kita. Tiap ada kesalahan yang kita temui dan kita bisa menemukan sebagian solusinya maka kita akan merasa bahwa semakin banyak hal yang kita mengerti dan semakin jelas pemecahan atas problem yang kita hadapi.

4. Tetap dalam Perspektif

Seringkali karena terlalu fokus dengan pencapaian cita-cita Anda. Anda lupa untuk menikmati saat ini, detik ini. Kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Pada saat tertentu mungkin Anda merasa gagal, kesal dan semuanya tidak berjalan dengan baik. Pada saat itu cobalah untuk tetap dalam perspektif dan lihat betapa masih beruntungnya Anda.

5. Belajar dan Memperbaiki Diri

Perbedaan antara orang sukses dengan orang yang tidak sukses adalah bahwa orang sukses dan calon sukses selalu mau belajar. Belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan belajar dari orang-orang yang sudah sukses.

 

6. Berbagi dengan Orang-Orang yang Tidak Beruntung

Bersedekahlah manakala kita sedang lapang dan sempit. Berbagi kepada yang lebih lemah dari kita sungguh merupakan obat dari perasaan sukses dan tidak sukses pada diri kita. Dengan berbagi maka kita akan merasa benar-benar sukses dan beruntung. Dengan berbagi kita juga akan merasa ternyata banyak yang lebih tidak sukses dibandingkan kita.

7. Sabar dan Berserah Diri

Akhirnya kalau kita sudah melakukan apa yg terbaik untuk meraih kesuksesan dan kesuksesan tidak datang juga, sabar dan pasrahkan diri kita. Paling tidak kita sudah berbuat sebaik mungkin untuk mengoptimalkan hidup kita.

June 16, 2009

Bidang-Bidang Pekerjaan dan Jabatan

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 10:30 pm by adminkarir

Pengelompokan macam-macam pekerjaan dan jabatan menurut bidangnya:

  1. Teknik dan industri, misalnya: montir, masinis, penerbang, pemborong, arsitek, insinyur, ahli pertambangan, ahli tekstil, ahli kimia, dan ahli percetakan.
  2. Niaga, misalnya: akuntan, penjaga toko, pengusaha angkutan, makelar, pembuat iklan, dan pengusaha asuransi.
  3. Perkantoran, misalnya: sekretaris, penyusun statistic, kasir, programmer computer, dan resepsionis.
  4. Pelayanan masyarakat/jasa, misalnya: apoteker, dokter, perawat, guru, hakim, jaksa, notaries, pramugari, kapster, petugas hotel, tentara, polisi, petugas pemerintahan, pekerja social, perencana mode, penari, pencipta lagu, bintang film, peragawati, pengarang, wartawan, penyiar radio/televisi, dan guide.
  5. Pekerja di lapangan (pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, arkeologi), misalnya: dokter hewan, ahli perairan, nelayan, ahli purbakala, dan botanis.

Atas dasar kesukaan seseorang dapat disebutkan sejumlah bidang pekerjaan dan jabatan menurut golongan minat, yaitu apakah orang lebih suka berurusan dengan orang, benda, atau ide/gagasan.

  1. Berurusan dengan orang, misalnya: pramugari, perawat, dokter, wartawan, manajer, psikolog, psikiater, guru, pekerja social, resepsionis, pramuniaga toko, agen biro travel, dan konselor sekolah. Semua pekerjaan ini menuntut kemampuan untuk bergaul dengan orang secara luwes dan untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sepekerjaan.
  2. Berurusan dengan benda/barang, misalnya: insinyur, penata perpustakaan, karyawan bank, peneliti di laboratorium kimia atau fisika, asisten laboratorium rumah sakit, karyawan kantor pos, sekretaris, akuntan, arsitek, modiste, penata rambut, komponis, pelukis, dan ahli foto. Semua pekerjaan ini menuntut kemampuan untuk berkonsentrasi dan bekerja sendiri serta berpikir kreatif.
  3. Berurusan dengan ide/gagasan, misalnya: pengarang, ahli ekonomi, pengacara, hakim, pegawai tinggi di departemen/lembaga tinggi Negara, ahli penelitian, dan dosen di perguruan tinggi. Semua jabatan ini menuntut kemampuan untuk menghadapi tantangan, dan untuk bertukar pikiran dengan rekan-rekan sepekerjaan.

Bagaimana Memilih Jurusan Agar Tepat?

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 10:29 pm by adminkarir

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan jurusan agar jurusan yang dipilih tepat, yaitu:

1. Mencari informasi secara detil mengenai jurusan yang diminati. Sebelum  memilih jurusan, hendaknya kita mempunyai informasi yang luas dan detil, mulai dari ilmunya, mata kuliahnya, praktek lapangan, dosen, universitasnya, komunitas sosialnya, kegiatan kampusnya, biaya, alternatif profesi kerja, kualitas alumninya, dsb.

2. Menyadari bahwa jurusan yang dipilih hanya merupakan salah satu anak tangga awal dari dari proses pencapaian karir. Kita perlu tahu realitanya, bahwa jurusan yang dipilih tidak menjamin kesuksesan masa depannya. Jangan dikira bahwa dengan kuliah di jurusan tersebut maka hidupnya kelak pasti sukses seperti yang diiklankan.

3. Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan kemampuan dan minat kita. Jika kita memilih jurusan sesuai dengan kemampuan dan minat, maka diri kita akan mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan selama kuliah, namun jika kita tidak memiliki kemampuan dan minat dalam jurusan yang dipilih, bisa mempengaruhi motivasi belajar.

4. Berpikiran jauh ke depan melihat konsekuensi dari setiap pilihan, apakah mampu menjaga komitmen dan konsekuensi kerja sebagai akibat dari pilihan itu? Di setiap pilihan pasti ada konsekuensi profesi, jangan sampai ingin punya status tapi tidak ingin menjalani konsekuensinya. Jangan sampai ingin jadi dokter tapi tidak siap mendapatkan panggilan mendadak tengah malam dari pasiennya; ingin jadi tentara tapi takut berperang; ingin jadi guru tetapi tidak sabar / tidak senang disuruh menghadapi anak murid. Jadi, kalau sudah punya cita-cita, siapkan mental, fisik dan komitmen untuk mau belajar menghadapi tantangannya.

5. Jurusan yang dipilih sebaiknya sesuai dengan cita-cita. Jika kita bercita-cita menjadi psikolog maka sebaiknya memilih jurusan psikologi bukan jurusan sosiologi atau yang lainnya. Jika ingin menjadi dokter, ya harus mengambil kuliah kedokteran. Pelajari bidang studi yang mempunyai beberapa proses. Misalnya, jika ingin menjadi dokter bedah, maka terlebih dahulu harus menjalani kuliah di kedokteran umum.

6. Menyiapkan beberapa alternatif. Alangkah baiknya jika kita memiliki lebih dari satu alternatif untuk menjaga diri jika tidak masuk di alternatif pertama, maka masih ada kesempatan di alternatif berikutnya. Pemilihan alternatif studi harus diupayakan yang masih sesuai dengan minat dan kemampuan, bukan karena pilihan yang paling besar kemungkinan diterima padahal tidak sesuai minat.

Resep Merasa Sukses

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 10:25 pm by adminkarir

Sukses memang banyak ukurannya. Sukses secara materi, karir, spiritual, kebahagian keluarga, dan lain-lain. Apapun ukuran yang dipakai yang penting adalah bahwa kita sendiri merasa bahagia dengan kesuksesan kita. Itu artinya kesuksesan yang diraih memang sesuai dengan yang kita inginkan bukan yang orang lain inginkan. Mungkin orang lain menganggap kita tidak sukses karena kita tidak kaya atau karirnya biasa saja tapi kalau kita bahagia dengan yang kita peroleh, dan memang itulah yang telah kita rencanakan, semestinya kita merasa sukses. Jadi judul yang tepat adalah resep merasa sukses, bukan resep sukses. Inilah resep merasa sukses yang dimaksud:

1. Tentukanlah Apa yang Anda Ingin Lakukan dalam Hidup Ini

Semua manusia pasti memiliki tujuan dalam hidup ini. Menentukan tujuan atau apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup ini perlu dilakukan agar Anda mempunyai cara atau langkah yang ingin Anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Realistis dan Fleksibel dengan Cita-Cita Anda

Seringkali cita-cita yang kita tetapkan tidak realistis. Terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan bakat dan kesukaan kita. Karena materi merupakan ukuran sukses seseorang maka kita memaksakan diri sekolah dan kerja di bidang yang banyak menghasilkan uang misalnya ekonomi.

3. Bahagia dengan Pencapaian Kecil

Dalam meraih cita-cita yang tinggi kita harus bisa menikmati pencapaian-pencapaian kecil dalam perjalanan hidup kita. Tiap ada kesalahan yang kita temui dan kita bisa menemukan sebagian solusinya maka kita akan merasa bahwa semakin banyak hal yang kita mengerti dan semakin jelas pemecahan atas problem yang kita hadapi.

4. Tetap dalam Perspektif

Seringkali karena terlalu fokus dengan pencapaian cita-cita Anda. Anda lupa untuk menikmati saat ini, detik ini. Kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya kepada kita. Pada saat tertentu mungkin Anda merasa gagal, kesal dan semuanya tidak berjalan dengan baik. Pada saat itu cobalah untuk tetap dalam perspektif dan lihat betapa masih beruntungnya Anda.

5. Belajar dan Memperbaiki Diri

Perbedaan antara orang sukses dengan orang yang tidak sukses adalah bahwa orang sukses dan calon sukses selalu mau belajar. Belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan belajar dari orang-orang yang sudah sukses.

6. Berbagi dengan Orang-Orang yang Tidak Beruntung

Bersedekahlah manakala kita sedang lapang dan sempit. Berbagi kepada yang lebih lemah dari kita sungguh merupakan obat dari perasaan sukses dan tidak sukses pada diri kita. Dengan berbagi maka kita akan merasa benar-benar sukses dan beruntung. Dengan berbagi kita juga akan merasa ternyata banyak yang lebih tidak sukses dibandingkan kita.

7. Sabar dan Berserah Diri

Akhirnya kalau kita sudah melakukan apa yg terbaik untuk meraih kesuksesan dan kesuksesan tidak datang juga, sabar dan pasrahkan diri kita. Paling tidak kita sudah berbuat sebaik mungkin untuk mengoptimalkan hidup kita.

Bagaimana Cara Mengembangkan Soft Skill??

Posted in Arum Dyah W (06104241030) at 10:23 pm by adminkarir

Istilah “hard skill” dan “soft skill” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Hard skill adalah kemampuan seseorang yang lebih bersifat teknis, mencakup pendidikan, pengalaman, dan tingkat keahlian, sedangkan soft skill lebih cenderung bersifat nonteknis, tidak berwujud, dan merupakan karakteristik kepribadian seseorang.

Kemampuan intelektual (hard skill) tidak menjamin seseorang akan sukses dalam hidupnya. Tingkat intelektual hanya mendukung 20 persen dari pencapaian prestasi dan keberhasilan seseorang, sementara 80 persennya, berasal dari kemampuan kepribadian (soft skill).

Macam-Macam Soft Skill

1. Mengenal Diri Sendiri

Kita perlu menyadari kelemahan dan kelebihan masing-masing, dan usaha-usaha apa yang seharusnya kita lakukan supaya lebih berhasil di kemudian hari. Kita dapat mengenal diri sendiri jika kita dapat menunjukkan sikap sebagai berikut:

a. Merasa aman dengan diri sendiri (security)

Merasa aman dengan diri sendiri berarti mempunyai rasa percaya diri, rasa harga diri, dan tidak merasa cemas serta gelisah tentang diri sendiri.

b. Percaya pada orang lain (trust)

Percaya pada orang lain berarti mampu untuk memberikan sesuatu dari diri sendiri dan menerima sesuatu dari kepribadian orang lain.

c. Memiliki keteguhan hati (courage)

Memiliki keteguhan hati berarti berani mengambil risiko tidak selalu mendapat tanggapan yang positif atau mendapatkan balas jasa dalam bentuk dikagumi serta dihargai.

2. Memahami Orang Lain

Kita perlu memiliki keterbukaan hati dan kebebasan dari cara berpikir yang kaku menurut keyakinan/pandangan pribadi, yang ditandai oleh sikap sebagai berikut:

a. Peka (sensitivity)

Keterbukaan hati dan pikiran memungkinkan kita menjadi peka terhadap pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh orang lain, baik dengan kata-kata maupun dengan ungkapan nonverbal, dan ikut menghayatinya tanpa kehilangan identitasnya sendiri.

b. Empati (Emphatic understanding)

Kita mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan orang lain seolah-olah kita pada saat itu menjadi orang lain tersebut, tanpa kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.

3. Kemampuan Berkomunikasi dengan Orang Lain

Kemampuan ini jelas bertumpu pada kemampuan untuk memahami orang lain. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain pada taraf pertemuan antarpribadi terdiri dari beberapa sikap, yaitu:

a. Berhati tulus ikhlas/sejati (genuine)

Bersikap sejati atau berhati tulus, berarti berkata-kata dan berbuat tanpa berpura-pura (jujur dan terus terang).

b. Tidak menguasai orang lain (nondominance)

Tidak menguasai orang lain berarti secara sadar tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri kepada orang lain, secara sadar tidak akan memaksa orang lain ke cara berpikir serta cara bertindak tertentu.

c. Mendengarkan dengan baik (listening)

Mampu mendengarkan dengan baik berarti berusaha menangkap apa yang sebenarnya diungkapkan oleh orang lain, tidak hanya mendengar aneka bunyi yang diucapkan, tetapi juga menggali makna dalam kata-kata itu.

d. Menghargai orang lain (positive regard)

Menghargai orang lain berarti dapat mendekati orang lain dan didekati oleh orang lain, dengan sikap yang positif dan kerelaan menerima orang lain apa adanya.

e. Mampu berkomunikasi verbal (verbal communication)

Kita harus terampil menyampaikan pikiran dan perasaan dalam kata-kata yang memadai, baik pikiran dan perasaan sendiri maupun orang lain.

f.  Memahami isyarat nonverbal (nonverbal communication)

Dalam berkomunikasi verbal, kita perlu menyadari efek dari kata-kata yang disampaikan kepada orang lain, dan kecocokan antara kata-kata yang diucapkan dan isyarat-isyarat nonverbal.

Pengembangan Soft Skill

Pengembangan soft skill berhubungan erat dengan kecerdasan emosi (EQ). Ada dua hal utama yang berkaitan dengan kecerdasan emosi, yaitu mengenali dan mengelola emosi. Jika kita sudah mengenal emosi diri kita dengan baik, maka kita dapat mengelolanya dengan mudah, sehingga kecerdasan emosi mudah pula untuk dibangun dan dikembangkan. Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi:

1. Mengatur Emosi

Diri kita adalah tuan dari emosi kita (I Am the Master of My Emotion), sehingga kita bisa mengatur menjadi seperti apapun bentuk emosi kita. Oleh karena itu, agar emosi tetap berada di level yang baik/positif, maka kita harus pandai-pandai memilih informasi yang kita terima. Informasi yang dirasa dapat mengganggu diri kita sebaiknya ditelaah terlebih dahulu.

2. Mengkomunikasikan Diri dengan Baik

Terkadang orang lain bisa salah persepsi jika kita keliru mengkomunikasikan diri kita. Oleh karena itu komunikasi yang baik akan menghasilkan emosi yang baik pula, yang akan berguna untuk rencana hidup kita.

3. Mengubah Pandangan Terhadap Sesuatu

Setiap orang mempunyai pandangan dan sikap tersendiri terhadap sesuatu. Terkadang pandangan dan sikap mereka berbeda dengan pandangan kita. Perbedaan inilah yang menuntut kita untuk mau melihat suatu hal dari kacamata oranglain dengan mengajukan pertanyaan yang tepat.

4. Selalu Berinteraksi dengan Orang Lain

Berinteraksi dengan orang lain memberi kesempatan kepada kita untuk memahami diri sendiri atas tanggapan orang lain terhadap sikap dan perilaku yang kita tampilkan. Dari tanggapan orang lain tersebut, kita bisa belajar sikap dan perilaku yang harus kita tampilkan pada situasi dan kondisi tertentu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.