June 16, 2009

TIPS MEMILIH PERGURUAN TINGGI SWASTA YANG BAIK

Posted in Rini Apriyani (06104241001) at 11:05 pm by adminkarir

Dari 1465+ perguruan tinggi swasta di Indonesia, tentu saja tidak semuanya memenuhi kriteria minat, biaya dan prospek yang sudah anda tentukan. Coret PTS yang tidak memiliki program studi sesuai minat anda. Singkirkan PTS-PTS yang biaya kuliahnya terlalu mahal bagi anda, atau terlalu jauh dari tempat tinggal anda sehingga biaya untuk kuliah di sana akan terlalu tinggi. Dengan demikian daftar yang anda miliki akan semakin pendek. Tetapi itupun mungkin masih cukup panjang sehingga memerlukan pendalaman lebih jauh. Faktor apa lagi yang perlu dilihat dari suatu perguruan tinggi untuk menentukan pilihan akhir anda?

Reputasi

Kalau saya harus memilih salah satu PTS tanpa melihat faktor-faktor internal lainnya, pertimbangan utama yang paling gampang saya gunakan adalah reputasi PTS tersebut. Reputasi di sini berarti PTS yang bersangkutan secara umum dikenal sebagai PTS yang baik, memiliki sarana belajar mengajar yang baik dengan fasilitas yang memadai. Lulusannya pun tidak kesulitan dalam mencari pekerjaan. Bahkan ada lulusan PTS yang menjadi rebutan perusahaan-perusahaan pemakainya.

Apakah tidak mungkin salah jika memilih PTS ini? Harus kita ingat, reputasi tidak datang dalam sekejap. Reputasi ini biasanya dibangun dengan kerja keras dan melalui proses yang panjang. Bisa saya katakan bahwa anda berada on the safe side jika memilih salah satu dari PTS-PTS ini. Bukan berarti lalu anda berhenti di sini saja. Masih ada hal-hal lain yang harus anda cermati.

Status Akreditasi

Status akreditasi ini adalah salah satu faktor yang paling sering digunakan oleh PTS untuk mengiklankan dirinya. Tidak terlalu salah memang, karena hal itu menunjukkan mutu/kemampuan PTS dalam menyelenggarakan suatu program studi. Status ini didapat setelah diadakan penilaian tentang semua unsur yang diperlukan untuk itu, termasuk fasilitas pendidikan, nisbah dosen tetap dan mahasiswa, kurikulum pendidikan, dan banyak hal lainnya. Masalahnya, tidak semua orang memahami dengan jelas tentang status ini, dan tampaknya banyak PTS yang menyadari dan memanfaatkan ketidaktahuan tersebut.

Yang terutama adalah: status akreditasi diberikan kepada program studi di suatu PTS dan bukan kepada PTS yang bersangkutan. Jadi sebetulnya tidak ada istilah PTS yang disamakan. Yang benar adalah (satu atau lebih) program studi di PTS tersebut statusnya disamakan. Mungkin saja PTS tadi memiliki 3 program studi (misalnya A, B, dan C), masing-masing dengan jenjang S1 dan D3. Kalau program studi A jenjang D3 saja (satu dari enam) yang memperoleh status disamakan, apakah tepat kalau PTS tersebut mengatakan statusnya disamakan?

Yang perlu anda ketahui juga, status akreditasi ini menentukan kemandirian suatu program studi dalam melaksanakan proses belajar mengajar, misalnya ujian negara atau penerbitan ijazah. Suatu program studi (sekali lagi bukan PTS) yang sudah dinyatakan terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) berhak untuk menyelenggarakan sendiri semua kegiatannya. Artinya anda tidak lagi harus mengikuti ujian negara yang dilaksanakan oleh Kopertis, dan ijazah yang anda terima cukup disahkan oleh PTS tempat anda kuliah.

Sekali lagi, tanyakan dengan jelas status akreditasi program studi yang anda pilih. Jangan percaya begitu saja dengan klaim yang dikeluarkan oleh suatu PTS tentang statusnya. (Uraian yang lebih rinci tentang hal ini dapat anda lihat pada topik Akreditasi).

Jalur dan Jenjang Pendidikan

Berapa lama anda mau menghabiskan waktu di bangku kuliah? Secepatnya? Berapa cepat? Selain ditentukan oleh kemampuan anda, hal ini juga tergantung dari jalur/jenjang pendidikan yang anda ambil. Pendidikan tinggi di Indonesia mengenal dua jalur pendidikan, yaitu jalur akademik (jenjang sarjana) dan jalur profesional (jenjang diploma). Jalur akademik menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, sedangkan jalur profesional menekankan pada penerapan keahlian tertentu. (Untuk lebih lengkapnya silakan lihat Struktur Pendidikan Tinggi).

Dalam kaitannya dengan waktu, jenjang sarjana membutuhkan waktu lebih lama (minimal 8 semester) dibandingkan dengan jenjang diploma (2 semester untuk D1 – 6 semester untuk D3). Hal ini tentu sangat berpengaruh pada biaya yang harus anda sediakan. Banyak orang, yang karena keterbatasannya, lebih memilih jenjang diploma dengan harapan cepat lulus dan mendapat pekerjaan.

Perlu anda ketahui, jenjang diploma dirancang sebagai jenjang terminal. Artinya, lulusannya dipersiapkan untuk langsung memasuki dunia kerja, bukan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (walaupun sekarang ada yang disebut program lintas jalur, dari diploma ke sarjana). Ini berbeda dengan jenjang sarjana, yang membuka kesempatan lulusannya untuk terus mengembangkan ilmunya.

Hal lain yang harus anda perhatikan adalah tingkat persaingan di pasar kerja. Kalau banyak tenaga sarjana yang tersedia, perusahaan akan lebih memprioritaskannya dibandingkan lulusan diploma.

Gelar dan Sebutan

Sesudah anda lulus, anda akan mendapat ijazah dan salah satu dari ini: gelar akademis atau sebutan profesional. Yang pertama anda tentu tahu, Sarjana Ekonomi (SE), Sarjana Hukum (SH), dan gelar lainnya. Gelar akademis ini diberikan kepada mereka yang menyelesaikan pendidikan melalui jalur akademik (jenjang sarjana).

Lalu bagaimana kalau kita menyelesaikan pendidikan jalur profesional (jenjang diploma)? Bukan gelar akademis (Sarjana Muda, misalnya) yang kita dapatkan, melainkan sebutan profesional seperti Ahli Madya Komputer (AMd Komp). Sebutan ini mungkin belum terlalu memasyarakat, dan kadang-kadang dianggap kurang bergengsi. Banyak yang masih menggunakan (dan lebih menyukai) istilah D3-Komputer. Anda yang menentukan, gelar atau sebutan yang ingin anda tambahkan di belakang nama anda.

Fasilitas Pendidikan

Gedung megah dan ber-AC saja tidak cukup untuk menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar yang baik. Bukan (hanya) itu yang dimaksud dengan fasilitas pendidikan. Fasilitas seperti laboratorium (komputer, akuntansi, bahasa, dan lain-lain), bengkel, studio dan perpustakaan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut untuk menguasai wawasan keilmuannya saja, tetapi juga bagaimana menerapkannya di lapangan. Apalagi untuk jalur pendidikan profesional yang lebih bersifat aplikatif dan menekankan pada ketrampilan.

Sekali lagi, jangan hanya tampilan fisik yang anda perhatikan. Boleh saja PTS memasang foto-foto gedungnya yang megah, laboratorium komputernya yang canggih. Tidak ada salahnya anda coba menanyakan, kapan mahasiswa berkesempatan untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut. Jangan-jangan hanya satu-dua kali per semester, atau hanya untuk mahasiswa tingkat akhir saja. Perhitungkan juga jumlah mahasiswa yang harus menggunakan fasilitas tersebut.

Kualitas dan Kuantitas Dosen

Perkembangan suatu PTS paling gampang dilihat dari jumlah mahasiswanya yang (selalu) bertambah. Ini sangat penting bagi PTS, karena mahasiswa adalah sumber utama (seringkali satu-satunya) pendapatan PTS. Dari merekalah PTS mencukupi kebutuhannya untuk membiayai operasional pendidikan, membangun gedung, menambah fasilitas pendidikan, termasuk membayar gaji dosen dan karyawannya. Oleh karena itulah ada kecenderungan PTS untuk menggali sebanyak mungkin potensi ini, baik secara kualitas (memperbesar uang gedung dan uang kuliah) maupun kuantitas (menerima sebanyak mungkin mahasiswa).

Pada sisi lain, bertambahnya mahasiswa menuntut ditambahnya jumlah dosen. Bukan hal yang mudah mendapatkan dosen dengan jumlah yang memadai, apalagi yang memenuhi kualitas yang dibutuhkan. Padahal Undang-Undang Pendidikan Tinggi mensyaratkan tercapainya nisbah (rasio) antara dosen tetap dan mahasiswa sebesar 1:30 untuk bidang studi IPS dan 1:25 untuk bidang studi IPA. Mungkin faktor dosen ini merupakan salah satu faktor paling sulit bagi suatu PTS, dan karenanya sering diabaikan atau direkayasa.

Pengabaian secara kuantitatif dilakukan dengan membebani dosen yang terbatas jumlahnya dengan beban mengajar yang besar, sehingga waktu dan tenaga dosen-dosen tersebut betul-betul tersita untuk itu. Seringkali hal ini dilakukan dengan mengabaikan aspek kualitas pengajarannya. Hampir tidak tersisa lagi waktu untuk melakukan penelitian atau pengabdian masyarakat yang merupakan pilar-pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Bisa juga suatu PTS memenuhi aspek kuantitas dosen tetap ini, tetapi dengan mengkompromikan kualitasnya. Misalnya dosen yang mengajar tidak sesuai dengan bidang ilmunya, tidak terpenuhinya kepangkatan akademik dalam pengajaran atau bimbingan tugas akhir, dan lain sebagainya.

Perekayasaan positif terjadi dengan penggunaan dosen-dosen tidak tetap. Biasanya dosen tidak tetap ini memenuhi persyaratan kelayakan mengajar, seperti latar belakang pendidikan, gelar dan kepangkatan akademis dan profesionalismenya. Masalahnya, dosen-dosen ini hanya menyediakan waktu yang terbatas kepada mahasiswa sesuai dengan status tidak tetapnya. Bagi PTS, mereka tidak bisa disertakan dalam penghitungan nisbah dosen tetap dan mahasiswa sehingga tidak berpengaruh dalam penentuan status akreditasi.

Yang paling memprihatinkan adalah jika terjadi perekayasaan negatif. Dalam hal ini PTS berusaha dengan segala macam cara untuk memenuhi nisbah tersebut. Misalnya PTS masih mencantumkan nama dosen yang sudah tidak lagi menjadi dosen tetap di sana, atau nama seseorang tercantum sebagai dosen tetap di lebih dari satu PTS. Contoh lain adalah dengan cara meminjam nama. Seseorang yang memenuhi kualifikasi akademis “diangkat” sebagai dosen tetap dengan mendaftarkannya secara resmi ke instansi yang berwenang. Artinya, secara administratif seluruh persyaratan sudah dipenuhi dan “dosen” tersebut juga menerima gaji dari PTS. Tetapi, keterlibatannya dalam kegiatan akademik hampir atau memang tidak ada sama sekali.

Sebelum anda mendaftar, cobalah untuk mencari tahu jumlah dosen tetap di PTS tersebut. Berapa orang yang bergelar S2, S3, dan mungkin ada yang sudah bergelar profesor. Kualitas keilmuan anda sangat banyak ditentukan oleh mereka.

Sumber: www.pts.co.id

Kiat memilih Ekstrakurikuler

Posted in Rini Apriyani (06104241001) at 11:03 pm by adminkarir

Bentuk ekskul di SMA

Biasanya berbentuk penyaluran hobi dan belakangan ini lebih banyak pilihan yang tersedia. Mulai banyak pula pilihan yang menunjang keahlian hidup (life skill) misalnya yang berkaitan dengan keterampilan (pertanian, wirausaha) atau profesi (jurnalisme/kepenulisan). Biasanya pula, murid lebih cenderung memilih kegiatan ekstrakurikuler yang baginya tidak membebani kegiatan sekolah (pelajaran) yang sudah berat. Karena itu dapat dimengerti jika peminat paling banyak biasanya di bidang kerohanian, olahraga, dan seni. Dan untuk tujuan menunjang pelajaran, bidang sains (berupa kegiatan ilmiah) juga banyak dipilih, terutama karena kesan baik yang dibawa jika dicantumkan dalam riwayat hidup :)

Patokan memilih ekskul

Hobi/minat biasanya menjadi alasan pertama. Kebutuhan menunjang kegiatan kelas/pencapaian target (misal sangat berminat di sains dan bermaksud mampu mengembangkan penelitian sendiri) adalah alasan kedua. Dan alasan yang juga populer adalah: teman (lo ikut, gue ikut), gebyar (rame, gengsi, terlihat banyak orang, ‘kelihatan’ apa yang dilakukan dan pencapaiannya), orangtua (musik, supaya… bisa musik hehehe… kan katanya musik bisa menunjang prestasi akademik –> ujung2nya akademik). Yang juga harus dipertimbangkan: keadaan fisik, beban kegiatan sekolah, dan kemampuan diri. Ikut 5 ekskul mungkin tidak akan dilarang, ya. Tapi apakah mungkin untuk aktif dalam ke-5nya dengan kadar yang sama?

Peranan orangtua

Orangtua yang memilihkan ekskul untuk anaknya sesungguhnya berada dalam posisi yang riskan. Pilihan yang tidak diambil sendiri oleh anak cenderung kurang dijunjung tanggungjawabnya. Ketika ada sesuatu beban yang menuntut anak untuk menanggungnya ia akan mudah lari dan berkata, “Yang pilih ini kan bukan saya. Wajar dong kalau saya tidak suka dan tidak antusias dalam mengikuti kegiatannya/terlibat”. Namun tentu saja baik jika pilihan orangtua diamini dan disukai oleh anak.

Orangtua yang mengambil pilihan untuk mendukung pilihan anak tentulah bermaksud bijak untuk memberi keleluasaan gerak dan kemandirian yang bertanggung jawab bagi anaknya, dan bukan pada sisi ‘terserah kamu mau ngapain, mamah ikut aja deh’. Orangtua tentunya mengerti keadaan kesehatan anak, misalnya, sehingga wajar jika berkeberatan jika anaknya yang menderita penyakit kronis ingin masuk ekskul yang menguras fisik dan menyarankan kegiatan lain yang tidak mengandalkan kegiatan fisik sebagai 80% performa.


Jaminan ekskul

Apa ada jaminan kalau kita ikut ekskul akan pandai bersosialisasi?

TIDAK ada jaminan untuk kemahiran sosialisasi atau untuk apapun. Ikut ekskulnya karena apa? Aktivitas anak di dalam ekskul itu juga menentukan. Kalau cuma duduk diam atau asyik mengobrol dengan teman sebelah saja, apa yang bisa didapat?

Sosialisasi tentunya tidak sebatas punya banyak kenalan, namun juga memiliki kemampuan membawa diri, kadar kesopanan cukup tinggi, ramah, bagaimana berbicara pada orang yang lebih tua, bagaimana berkomunikasi yang efektif, dan sebagainya.

Sekadar banyak teman tidak cukup untuk dijadikan kadar penilaian ‘pandai bersosialisasi’. Teman banyak tapi kalau lebih dari separuhnya adalah orang-orang yang sebal padanya bagaimana? Hehehehe…

Kursus, bimbel, atau ekskul?

Sebenarnya apa sih tujuan dari ekskul?

Pembinaan siswa dalam bentuk menyeimbangkan antara kegiatan kelas dan luar kelas. Wadah beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan pengembangan sisi pembelajaran non-akademik.

Bimbel dijadikan sebagai ekskul. Bisakah?

TIDAK. Ekskul diadakan untuk pengembangan non-akademik, sedangkan bimbel digelar untuk menunjang kegiatan/peningkatan kemampuan akademik murid. Tujuannya berbeda sehingga tidak dapat saling menggantikan.

Kesepakatan pengembangan keragaman ekskul

Tidak ada aturan kaku yang dibakukan. Cenderung pada kebutuhan murid, ‘corak’ minat murid, dan masukan bagi sekolah, juga menurut kemajuan zaman. Tidak lupa disesuaikan dengan kondisi fisik dan perkembangan anak. Panjat dinding lebih pantas diadakan di SMA ketimbang SD, misalnya. Jaman saya (masih ber)sekolah (di SMA) dulu, tidak ada ekskul softball, tenis, rampak gendang, IT, dan sebagainya. Sekarang berkembang menjadi sangat banyak dan dengan jumlah peminat yang agak mengejutkan pula. Siapa sangka tari tradisional menjadi ekskul favorit? :)

Kunci membuat pilihan ekskul

Tahu apa yang diinginkan

Kalau kamu ngga tahu kamu maunya apa, tidak ada yang bisa membantu. Kalau kamu tidak tahu apa yang akan dipilih, ada baiknya mencari tahu informasi tentang (jika perlu) semua ekskul yang ada di sekolahmu.

Sekolah-sekolah tertentu menyelenggarakan ekspo (semacam pameran) ekskul dan kamu bisa bertanya apa saja dan melihat kegiatan nyata pelaksanaan program ekskul yang bersangkutan..

Tentukan targetnya

Target membantumu untuk punya tujuan dan motivasi untuk maju. Tidak harus selalu berkaitan langsung dengan ekskul yang ada, walau akan membantumu jika antara tujuan dan ekskul yang akan kamu pilih berkaitan langsung. Misalnya jika kamu tertarik dan ingin menjadi jurnalis, kamu pilih ekskul jurnalisme atau media siswa.

Tapi tak ada salahnya juga jika ingin memilih teater atau kerohanian. Pilihan tak harus selalu homogen, bukan? Asal kamu punya target, kamu akan punya titik acuan hendak ke mana dan jalanmu lebih jelas.

Pilih jalannya dan JALANI

Kalau kamu memang akan memprioritaskan sekolah (kamu memilih sekolah karena sekolahnya terkenal baik di bidang akademik, misalnya), kamu harus siap untuk tidak terpilih sebagai anggota utama karena kamu tidak bisa ikut latihan tiap sore berturut-turut selama 3 minggu itu (misalnya).

Dan sebaliknya. Kalau kamu memang ingin terjun secara profesional di bidang ekskul yang kamu jalani (merakit komputer, penari, pemain musik, dsb) dan merasa kegiatan sekolah terlalu mengekang pencapaian tujuan ‘akhir’mu, bisa jadi ini pertanda kamu ‘salah pilih’ sekolah. Kamu seharusnya pilih sekolah yang lebih longgar atau yang memiliki dukungan tinggi terhadap bidang yang kamu minati.

Tentu saja, pilihan kedua ini jarang. Tapi bukannya tidak mungkin. Diperlukan kesepakatan dan dukungan dari orangtua untuk pencapaian hidup remaja. Kecuali jika kamu siap sepenuhnya lepas dari aturan (dus tanggungan) orangtua. Tidak umum, dan bukannya saya menyarankan, tapi ada. Dan belum tentu tidak berhasil juga :)

Tanggung konsekuensinya.

Capek, nih… Aduh, jangan ulangan besok dong, ada latihan nih! Hei, ini pilihan kamu. Kamu harus sudah memikirkan kemungkinan ini sedari awal.

Kamu harus bersedia menanggung pilihan kamu dan tidak melarikan diri. Alasan mungkin membuatmu dapat dimengerti, tapi alasan tidak memberi pembenaran. Bertanggung jawab atas pilihan adalah ciri manusia dewasa. Siapkah kamu menjadi dewasa?

Sumber : http://www.rajaraja.com/tipstrik_detail.php?id_tips=209

Perencanaan karir ala Mind Maping

Posted in Rini Apriyani (06104241001) at 11:01 pm by adminkarir

Secara global perencanaan karir itu terdiri dari 8 langkah, yaitu:

  1. Mengembangkan rencana karir. Pikirkanlah mengenai apa yang akan kita lakukan dan langkah-langkah strategis apa yang dibutuhkan untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.
  2. Tinjaulah kemampuan serta minat yang kita miliki. Pikirkan secara serius dan mendalam hal-hal yang kita sukai, mampu kita kerjakan dengan baik, kepribadian yang kita miliki serta nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.
  3. Cobalah mencari tahu jenis-jenis karir/pekerjaan yang mendekati dengan diri kita, ya itu tadi, kemampuan serta minat yang kita miliki, latar belakang pendidikan kita, gaji yang kita harapkan, kondisi kerja yang kita inginkan serta hal-hal lain yang akan memberikan kejelasan arah dan fokus karir/pekerjaan kita.
  4. Selanjutnya, bandingkanlah keterampilan dan minat yang kita miliki dengan jenis karir/pekerjaan yang telah kita pilih. Jadi, karir/pekerjaan yang paling sesuai dan dekat dengan diri kita sangat mungkin menjadi karir/pekerjaan bagi kita.
  5. Kembangkanlah tujuan karir/ pekerjaan yang kita pilih. Hal ini akan menjadi panduan yang sangat penting bagi kita untuk menyusun langkah-langkah taktis selanjutnya.
  6. Ikutilah pendidikan atau pelatihan yang mendekatkan kita dengan tujuan karir/perkerjaan yang telah kita buat.
  7. Hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah masalah keuangan. Kita mungkin akan berpikir mengenai sumber-sumber dan besarnya uang yang kita butuhkan untuk mewujudkan karir kita.
  8. Cobalah minta nasehat dari beberapa sumber yang anda yakini dapat membantu anda memberikan penjelasan dan arahan megenai karir/pekerjaan pilihan anda.

http://skiftuns.wordpress.com/2008/04/25/perencanaan-karir/

Kunci membuat pilihan ekskul

Posted in Rini Apriyani (06104241001) at 11:00 pm by adminkarir

Paham apa yang diinginkan

Jika kita tidak paham tentang apa yang kita mau, maka orang lain pun tak akan bisa membantu diri kita. Jika kita tidak tahu apa yang akan dipilih, ada baiknya kita mencari informasi tentang semua ekskul yang ada di sekolah kita. Beberapa sekolah tertentu menyelenggarakan ekspo (semacam pameran) ekskul dan kita bisa bertanya apa saja dan melihat kegiatan nyata pelaksanaan program ekskul yang bersangkutan.

Tentukan targetnya

Target dapat membantu kita untuk punya tujuan dan motivasi untuk maju. Tidak harus selalu berkaitan langsung dengan ekskul yang ada, walau akan membantumu jika antara tujuan dan ekskul yang akan kamu pilih berkaitan langsung. Misalnya jika kamu tertarik dan ingin menjadi jurnalis, kamu pilih ekskul jurnalisme atau media siswa.

Pilih jalannya dan jalani

Kalau kita memang akan memprioritaskan sekolah (kita memilih sekolah karena sekolahnya terkenal baik di bidang akademik, misalnya), maka kita harus siap untuk tidak terpilih sebagai anggota utama karena kita tidak bisa ikut latihan tiap sore berturut-turut selama 3 minggu itu (misalnya).

Dan sebaliknya. Jika kita ingin terjun secara profesional di bidang ekskul yang kita jalani (merakit komputer, penari, pemain musik, dsb) dan merasa kegiatan sekolah terlalu mengekang pencapaian tujuan ‘akhir’ kita, bisa jadi ini pertanda kita ‘salah pilih’ sekolah. kita seharusnya pilih sekolah yang lebih longgar atau yang memiliki dukungan tinggi terhadap bidang yang kita minati.

Tentu saja, pilihan kedua sangatlah jarang. Tapi bukan berartihal ini tidak mungkin. Diperlukan kesepakatan dan dukungan dari orangtua untuk pencapaian hidup remaja. Kecuali jika kita siap sepenuhnya lepas dari aturan (dus tanggungan) orangtua.

Tanggung konsekuensinya.

“Capek, nih… Aduh, jangan ulangan besok dong, ada latihan nih!” ingat, ini pilihan kita. kita harus sudah memikirkan kemungkinan ini sedari awal.

Kita harus bersedia menanggung pilihan dan tidak melarikan diri. Alasan mungkin membuat kita dapat dimengerti, tapi alasan tidak memberi pembenaran. Bertanggung jawab atas pilihan adalah ciri manusia dewasa. Siapkah kita menjadi dewasa?

Sumber : http://www.rajaraja.com/tipstrik_detail.php?id_tips=209

Membangun kesiapan mental menghadapi dunia kerja

Posted in Rini Apriyani (06104241001) at 10:57 pm by adminkarir

Bekerja bagi manusia adalah suatu kebutuhan, baik untuk aktualisasi diri maupun untuk mengarungi kehidupan di dunia. Bekerja pada dasarnya adalah hal yang sangatlah mudah dilakukan bagi setiap orang, melakukan suatu aktivitas tertentu sudah termasuk di dalam kamus bekerja. Namun tentunya yang akan saya bahas ini adalah tentang bekerja dalam hal meniti karir baik sebagai karyawan di suatu perusahaan ataupun menjadi seorang pebisnis/wirausahawan.

Hal yang sering terjadi pada seseorang yang baru memutuskan diri untuk mencari pekerjaan adalah kurangnya memahami aturan-aturan umum yang berlaku di dunia kerja. Hal ini patut di sadari karena pada umumnya kita hidup di dunia kampus yang merupakan dunia yang ceria, funky, glamour dan hura-hura. Harus disadari bahwa dunia kampus berbeda 180° dengan dunia kerja yang merupakan dunia serius.

MENTAL BEKERJA

Dalam dunia kerja selalu ada aturan-aturan main yang berlaku baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Sebagai contoh sederhana adalah cara berpakaian, membuat janji serta cara-cara berkomunikasi dengan sopan.

Sehebat apapun anda atau seberapa banyak pun gelar yang anda sandang, aturan atau norma-norma tersebut tidak boleh anda abaikan. Anda harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan budaya yang ada dalam perusahaan. Jika anda yang kebetulan berusia muda mau mengikuti aturan (contoh : bisa berkomunikasi dengan baik dan memiliki cara berpakaian yang pantas) maka gap antara senior dan junior akan dapat diminimalisasikan dengan cepat.

Ada sebuah ungkapan: “Bekerja itu gampang, mental bekerja itu yang sulit”, terkadang saat kita dihubungi oleh pihak JPCC UBAYA bahwa anda direkomendasikan untuk interview oleh pihak perusahaan telah kita lamar sebelumnya dan kita diminta untuk hadir pada tanggal, jam atau waktu tertentu. Namun celakanya kita membatalkan diri tanpa adanya pemberitahuan kepada pihak perusahaan dan yang lebih parahnya lagi adalah kita langsung saja tidak hadir pada janji yang telah kita sepakati dengan pihak perusahaan !!!. Hal ini mungkin bagi kita tidak pernah terpikirkan akibatnya, bahwa dari perbuatan tersebut anda bisa dimasukkan kedalam daftar hitam di kalangan Personalia/HRD. Mereka mempunyai ikatan yang sangat kuat di antara mereka sehingga jangan kaget apabila kita sering melakukan hal tersebut, maka tidak ada satupun panggilan kerja dari sekian banyak surat lamaran kerja yang kita masukkan…paling-paling kita menunggu panggilan dalam waktu yang sangat lama.

Contoh hal diatas adalah masalah kredibilitas anda sebagai calon pelamar di pertaruhkan. Hal tersebut dapat berakibat fatal apabila ternyata 10% dari calon pelamar dari mahasiswa Universitas Surabaya melakukan hal yang sama….maka akibatnya berdampak pada persepsi perusahaan terhadap seluruh lulusan mahasiswa…”bahwa ternyata lulusan UBAYA seperti itu !!”.

Menurut saya persiapkanlah mental bekerja dengan sebaik-baiknya, karena mental bekerja adalah salah satu faktor terpenting dari seseorang yang akan bekerja, baik pada suatu perusahaan ataupun wirausaha.

Hal berikutnya adalah cara berkomunikasi, Berkomunikasi adalah cara yang digunakan oleh manusia untuk saling berinteraksi satu sama lain. Latihlah cara berkomunikasi anda dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, sebagai awal adalah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terkadang kita dihubungi oleh pihak perusahaan melalui telepon, apabila hal itu terjadi maka janganlah kita menjawab dengan menggunakan bahasa yang seenaknya, bahasa jawa, atau bahkan bahasa prokem, haram hukumnya !!!. Pada saat interview misalnya, cara kita menjawab suatu pertanyaan dapat di persepsikan oleh interviwer dengan berbagai macam. Cara kita menjawab pertanyaan pada saat interview juga sangat mempengaruhi penilaian, seseorang yang sudah sering berkomunikasi dengan baik pada saat menjadi aktivis kemahasiswaan misalnya, biasanya lebih dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh interviewer dengan cukup lugas, cerdas, dan tegas

http://insunmedal.wordpress.com/2008/06/12/persiapan-menghadapi-dunia-kerja

Cara milih jurusan di Perguruan Tinggi yang baik

Posted in Rini Apriyani (06104241001) at 10:55 pm by adminkarir

1. Menyesuaikan Cita-Cita, Minat dan Bakat

Bagi yang telah memiliki cita-cita tertentu, maka lihatlah jrurusan apa yang dapat membawa menuju profesi atau pekerjaan yang diinginkan tersebut. Janganlah memilih jurusan teknik geodesi jika anda ingin menjadi seorang dokter ahli kandungan dan jangan pula memilih jurusan sastra jawa jika bercita-cita menjadi polisi.

Sesuaikan jurusan yang ingin diambil dengan minat dan bakat. Jika tidak menyukai hitung-hitungan janganlah mengambil jurusan matematika dan jika tidak menyukai menggambar jangan mengambil jurusan teknik sipil. Kemudian lihat bakat anda saat ini. Mengembangkan bakat yang sudah ada disertai dengan rasa suka dan cita-cita pada suatu jurusan studi akan menjadi pilihan yang tepat.

2. Informasi yang Sempurna

Carilah informasi yang banyak sebagai bahan pertimbangan anda untuk memilih jurusan. Cari dan gali informasi dari banyak sumber seperti orang tua, saudara, guru, teman, bimbel, tetangga, konsultan pendidikan, kakak kelas, teman mahasiswa, profesional, dan lain sebagainya. Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain yang kurang menguasai informasi atau ikut-ikutan teman / trend.

Internet juga merupakan media yang tepat dan bebas untuk bertanya kepada orang-orang di dalamnya tentang apa yang ingin kita ketahui. Cari situs forum atau chating melalui messenger dengan orang yang dapat dipercaya. Semua informasi yang didapat dirangkum dan dijadikan bahan untuk membantu memilih jurusan.

3. Lokasi dan Biaya

Bagi orang yang hidup dalam ekonomi atas, memilih jurusan tidak akan menjadi masalah. Biaya yang nantinya harus ditanggung dapat diselesaikan dengan mudah baik dari pengeluaran studi, biaya hidup, lokasi tempat tinggal, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, lokasi dan biaya merupakan masalah yang sangat diperhitungkan.

Jika dana yang ada terbatas maka pilihlah lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota yang memiliki biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikan tidak terlalu tinggi. Jika dana yang ada nanti belum mencukupi, maka carilah beasiswa, keringanan, pekerjaan paruh waktu / freelance atau sponsor untuk mencukupi kebutuhan dana anda. Jangan jadikan pula uang sebagai faktor yang sangat menghambat masa depan anda.

4. Daya Tampung Jurusan / Peluang Diterima

Perhatikan daya tampung suatu jurusan di PTN dan PTS favorit. Pada umumnya memiliki kuantitas yang terbatas dan diperebutkan oleh banyak orang. Jangan membebani diri anda dengan target untuk berkuliah di tempat tertentu dengan jurusan tertentu yang favorit. Anda bisa stres jika kehendak anda tidak terpenuhi. Buat banyak pilihan tempat kuliah beserta jurusannya.

Ukur kemampuan untuk melihat sejauh mana peluang menempati suatu jurusan di tempat favorit. Adanya seleksi masal yang murni seperti UMPTN, SPMB, Sipenmaru dan lain sebagainya dapat menjegal masa depan studi anda jika tidak persiapkan dan diperhitungkan matang-matang. Pelajari soal-soal seleksi dan ikuti ujian try out sebagai percobaan anda dalam mengukur kemampuan yang anda miliki.

Namun jangan terlalu minder dengan hasil yang didapat. Jika pada SPMB ada 2 jurusan yang dapat dipilih, pilih satu jurusan & tempat yang anda cita-citakan dan satu jurusan lain atau lokasi lain yang sesuai atau sedikit di bawah kemampuan anda.

5. Masa Depan Karir dan Pekerjaan

Lihatlah ke depan setelah anda lulus nanti. Apakah jurusan yang anda ambil nanti dapat mengantar anda untuk mendapatkan pekerjaan dan karir yang baik? Banyak jurusan-jurusan yang saat ini lulusannya menganggur tidak bekerja. Tidak hanya orang dari jurusan tertentu saja yang dapat bekerja pada suatu profesi, karena saat ini rekrutmen perusahaan dalam mencari tenaga kerja tidak melihat seseorang dari latar belakang pendidikan saja, namun juga pengalaman. Tetapi jika kompetensi, keberanian dan kemampuan anda jauh dari orang-orang normal, maka jurusan apapun yang anda ambil sah-sah saja.

Biarkanlah hati dan akal sehat anda bicara tanpa adanya campur tangan dari orang lain. Konsultasikan dengan orang tua dan orang lain yang anda percayai. Pemilihan jurusan kuliah sangat menentukan masa depan anda. Selamat berjuang.

Sumber: organisasi.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.